KATA PENGANTAR
Puji syukur
pemakalah panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Asbabun Nuzul. Alhamdulillah
makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan waktunya, walaupun makalah ini kami sadari masih banyak kekurangan, sehingga mungkin
bagi kita untuk terus belajar dan mendalaminya, oleh karena itu kami sangat membutuhkan partisipasinya
untuk dapat memberikan kritik dan saran kepada kami.
Makalah ini
kami susun agar kami bisa memahami tentang Asbab an-Nuzul Al-Qur’an (sebab-sebab
turunnya ayat Al-Qur’an), sehingga tidak hanya menjalankan kewajiban dalam
mengerjakan tugas semata, tetapi juga bisa memberikan manfaat kepada
pembacanya. Dalam proses penulisan makalah
ini, kami mengucapkan terima kasih
kepada rekan-rekan kelompok kami yang telah banyak membantu dalam proses
penyusunan makalah ini serta kami ucapkan terima kasih kepada bapak dosen mata kuliah Ulumul Qur’an yang telah memberikan
arahan kepada kami sehingga kami lebih
mudah dalam menyelesaikan tugas ini. Sekian yang dapat kami sampaikan semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi yang membacanya. Amiin..
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Pada masa Nabi SAW. terkadang ada suatu pertanyaan yang dilontarkan kepada
beliau atau permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, dengan
maksud meminta ketegasan hukum atau penjelasan secara terperinci tentang
urusan-urusan agama, sehingga turunlah beberapa ayat dari ayat-ayat Al-Qur’an,
hal yang seperti itulah yang dimaksud dengan asbabun nuzul.
Sedemikian pentingnya hingga Ali Ibn Al-Madiny guru dari Imam Bukhari menyusun
ilmu asbabun nuzul secara khusus, kemudian ilmu asbabun nuzul berkembang
sehingga memudahkan para mufassirin dalam menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur’an
serta memahami isi kandungannya.
Dalam makalah ini kami akan sedikit membahas tentang hal-hal yang berkaitan
dengan asbabun nuzul, mulai dari pengertian asbabun nuzul, cara mengetahui
asbabun nuzul, macam-macam asbabun nuzul, serta faidah yang ada dalam mengetahui
asbabun nuzul.
2. Rumusan masalah
a) Apa pengertian Asbabun Nuzul ?
b) Bagaimana cara mengetahui Asbabun Nuzul ?
c) Apa saja macam-macam Asbabun Nuzul ?
d) Apa faidah mengetahui Asbabun Nuzul ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Asbabun Nuzul
Menurut bahasa, asbabun nuzul berarti sebab-sebab turunnya,
berasal dari kata “asbaab” merupakan bentuk jamak dari kata “sababa”
yang artinya sebab-sebab, sedangkan kata “nuzul” berasal dari kata “nazala”
yang artinya turun, yang dimaksud disini adalah ayat-ayat Al-Qur’an. Sedangkan menurut
para ahli, asbabun nuzul terdapat banyak pengertian, diantaranya :
1. Menurut
Az-Zarqani :
“Asbab an-Nuzul adalah
hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunnya ayat Al-Qur’an
yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi”.
2. Menurut Ash-Shabuni
:
“Asbab an-Nuzul adalah
peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia
yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan
yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama”.
3. Menurut Mana’
Al-Qaththan :
“Asbab an-Nuzul adalah
peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya A-Qur’an berkenaan dengan waktu
peristiwa itu terjdi, baik berupa suatu kejadian atau berupa pertanyaan yang
diajukan kepada Nabi”.
Meskipun redaksi-redaksi pendefinisian di atas berbeda-beda, tapi semuannya
menyimpulkan bahwa asbabun nuzul adalah suatu hal yang melatarbelakangi ayat-ayat
Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, baik berupa peristiwa
maupun pertanyaan. Bentuk peristiwa itu sendiri berupa konflik sosial,
kesalahan-kesalahan besar yang dilakukan oleh para sahabat, dan berupa
pertanyaan yang diajukan berkaitan sesuatu yang telah lewat, sedang atau yang
akan terjadi.
B. Cara Mengetahui Asbabun Nuzul
Asbabun nuzul tidak bisa diketahui dengan akal
(rasio) saja, tidak lain mengetahuinya harus berdasarkan riwayat-riwayat
yang shahih dan didengar langsung dari orang-orang yang mengetahui turunnya
Al-Qur'an atau dari orang-orang yang memahami asbabun nuzul, lalu mereka
menelitinya dengan cermat, baik dari kalangan sahabat, tabi'in atau lainnya, dengan
catatan pengetahuan mereka diperoleh dari ulama-ulama yang dapat dipercaya.
Al-Wahidy
dalam kitabnya Asbab An-Nuzul mengatakan, “Pembicaraan asbab an-Nuzul tidak
dibenarkan kecuali dengan berdasarkan riwayat dan mendengar dari mereka yang
secara langsung menyaksikan peristiwa nuzul dan bersungguh-sungguh dalam
mencarinya”.
Para
ulama salaf sangatlah keras dan ketat dalam menerima berbagai riwayat yang berkaitan
dengan asbabun nuzul. Keketatan mereka itu dititikberatkan pada seleksi pembawa
riwayat (perawi), sumber riwayat (isnad), dan redaksi berita (matan).
Bukti keketatan itu diperlihatkan oleh Ibnu Sirin ketika menceritakan
pengalamannya, “Aku pernah bertanya kepada Ubadah tentang sebuah ayat
Al-Qur’an, tetapi ia menjawab; “Hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah dan
berbicaralah yang benar. Orang-orang yang mengetahui mengenai apa ayat-ayat
Al-Qur’an diturunkan sudah tidak ada lagi”.
Akan tetapi
kekeritisan mereka tidak dikenakan kepada para sahabat, oleh karena itu pula
Ibn Shalah, Al-Hakim, dan para ulama hadits lainnya menetapkan, “Seorang
sahabat Nabi yang mengalami masa turunnya wahyu, jika ia meriwayatkan suatu
berita tentang asbabun nuzul, riwayatnya itu berstatus marfu”.
Sedangkan
berkaitan dengan asbabun nuzul, ucapan seorang tabi’in tidak dipandang sebagai
hadits marfu, kecuali bila diperkuat denagn hadits mursal lainnya, yang
diriwayatkan oleh seorang imam tafsir yang dipastikan mendengar hadits itu dari
Nabi SAW.
C. Macam-macam Asbabun Nuzul
Asbabun Nuzul atau sebab-sebab turunnya Al-Qur’an
memiliki beberapa macam diantaranya yaitu :
1. Dilihat dari sudut
pandang redaksi-redaksi yang digunakan dalam riwayat asbabun nuzul.
·
Sarih (jelas)
Artinya riwayat yang memang sudah jelas menunjukkan asbabun nuzul dengan
indikasi menggunakan lafal (pendahuluan).
Contoh : Apabila periwayat yang mengatakan, “Sebab turunnya ayat ini
adalah begini...”, atau “Telah terjadi peristiwa begini...maka turunlah ayat
ini...”, atau “Rasulullah pernah ditanya tentang....maka turunlah ayat
ini...”.
·
Muhtamilah (kemungkinan atau belum pasti)
Artinya riwayat belum dipastikan sebagai asbabun nuzul karena masih
terdapat keraguan.
Contoh : Apabila periwayat mengatakan, “Saya kira ayat ini turun
berkenaan dengan....”, dan kata-kata yang semisalnya.
2. Dilihat dari sudut
pandang terbilangnya asbabun nuzul untuk satu ayat atau terbilangnya ayat untuk
satu sebab asbabun nuzul.
·
Ada beberapa sebab yang
hanya melatarbelakangi turunnya satu ayat.
D. Faidah Mengetahui Asbabun Nuzul
Berikut
ini adalah faidah dari mengetahui
asbabun nuzul Al-Qur’an :
1.
Menjelaskan hikmah atau syariat Islam dan
mengetahui tujuan diberlakukannya syari’at bagi umat Islam.
2.
Mengetahui wilayah cakupan suatu hukum meskipun
ayat tersebut diturunkan dalam bentuk yang umum. Hal ini untuk menjawab
persoalan-persoalan khilafiah (perbedaan pendapat) yang pasti terjadi dimasyarakat,
sebagaimana firman Allah SWT.
“
Sungguh kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat ”.
(Q.S Adz-Dzariyaat
: 8)
3.
Memudahkan untuk memahami isi kandungan dan
menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.
4.
Memberikan pengetahuan tentang turunya ayat.
5.
Membantu dalam mengatasi ketidakpastian dalam
menangkap pesan ayat-ayat Al-Qur’an.
6.
Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan
turunnya ayat-ayat Al-Qur’an.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat kami
simpulan bahwa, asbabun nuzul merupakan
suatu bentuk hal pendorong yang menyebabkan bebrapa ayat Al-Qur’an diturukan
sebagai petunjuk (Al-Huda) bagi seluruh umat Islam dalam menjalani
kehidupan ini. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam surah Al-Baqarah ayat 2 :
“Kitab (Al-Qur’an)
ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi mereka yang bertaqwa”
Al-Qur’an
sebagai kitab umat Islam tentu harus berhati-hati dalam menafsirkan ayat, tidak
bisa menafsirkannya secara sembarangan dengan akal manusia saja, tetapi perlu
adanya pemahaman yang benar serta ilmu yang bisa dijadikan pedoman dalam
menafsirkan ayat demi ayat sehingga ayat tersebut bisa menjadi petunjuk yang
lebih jelas dan mudah dipahami oleh umat pesan yang disampaikan ayat-ayat
Al-Qur’an tersebut. Orang akan salah menangkap pesan-pesan Al-Qur’an secara
utuh, apabila hanya memahami bahasanya saja, tanpa memahami konteks
historisnya. Dalam hal ini ilmu asbabun nuzul juga ikut membantu dalam memahami
dan menafsirkan ayat melalui kisah-kisah yang terjadi ketika dimasa ayat
Al-Qur’an masih diturunkan (‘ashr at-tanzil), sehingga kita bisa
mengetahui mengenai apa dan berfungsi dalam hukum apa ayat tersebut diturunkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Sholihin, Muhammad.Ulum Al-Qur’an.Bandung.Pustaka
Setia.2013
Abdul Khozim, Ahmad.Pengantar Ulumul Hadits.Cirebon.STAI
BBC.2012
Manna’ Kholil Al-Qattan.Studi Ilmu-Ilmu
Al-Qur’an.Bogor.Pustaka Litera Antar Nusa.2009
Al-Qur’an dan Terjemah Departemen Agama RI.Jakarta.Pustaka
Agung Harapan.2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar